Tren

Menaker: Adopsi AI Bukan Cuma Soal Ubah Cara Kerja

TopCareer.id – Kecerdasan buatan atau AI saat ini sudah merambah ke dunia kerja. Namun, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan, adopsi AI tidak boleh hanya berorientasi pada teknologi, tapi juga menempatkan manusia sebagai bagian utama dari transformasi tersebut.

Hal ini disampaikan Yassierli dalam Indonesia Human Capital & Beyond Summit 2026 di di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (15/9/2026).

Ia mengatakan, sektor dengan pemanfaatan AI yang tinggi menunjukkan pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dibandingkan sektor dengan pemanfaatan AI yang lebih rendah.

Meski begitu, Menteri Ketenagakerjaan menilai AI tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan tenaga kerja. Justru menurutnya, muncul kebutuhan terhadap kompetensi baru yang membuat pekerja perlu menguasai keahlian di bidangnya sekaligus mampu menggunakan AI.

“Produktivitas pada perusahaan yang lebih terekspos AI tidak seperti yang dikhawatirkan banyak orang, bahwa jumlah tenaga kerjanya menjadi berkurang, ternyata tidak,” kata Yassierli.

Baca Juga: Standar Kerja Layak Era Digital Bakal Jadi Acuan UU Ketenagakerjaan

Menurutnya, saat ini, banyak perusahaan yang mencari sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi atau skill di bidang AI dan mampu memanfaatkannya dalam pekerjaan sehari-hari.

Meski begitu Yassierli mengingatkan, adopsi AI bukan berarti akan langsung bermanfaat bagi bisnis secara signifikan.

Kajian Boston Consulting Group (BCG) pada 1.250 perusahaan bahkan menunjukkan 60 persen perusahaan pelopor AI belum merasakan manfaat bisnis signifikan, salah satu penyebabnya adalah kesalahan dalam strategi penerapan AI.

Menaker mengatakan, benefit dari adopsi AI bukan hanya soal banyaknya SDM yang sudah bekerja dengan kecerdasan buatan, tapi juga tentang desain proses bisnis yang mengintegrasikan antara manusia dengan AI.

Baca Juga: AI Ubah Dunia Kerja, Ini 5 Strategi HR biar Tak Tertinggal

Menurut Yassierli, manfaat AI sangat bergantung pada bagaimana perusahaan mengubah cara kerjanya. Penggunaan AI hanya sebagai asisten operasional rata-rata meningkatkan produktivitas sekitar 5 persen.

Sementara, jika perusahaan ikut merancang ulang alur kerja dan SOP, serta disertai peningkatan keterampilan pekerja, produktivitas berpotensi meningkat hingga 30 sampai 40 persen.

“30-40 persen inilah room kita untuk satu memberikan kesejahteraan yang lebih baik kepada pekerja, room kita untuk lebih bisa resiliens terhadap perubahan luar negeri, perubahan pasar dan seterusnya, dan ini memang harus menjadi kerja kita bersama,” kata Menaker.

Transformasi Digital Bukan Hanya Soal Adopsi Teknologi

Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 sendiri digelar pada 15–16 September 2026 dengan mengusung tema “Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity.”

Forum ini mempertemukan para pemimpin industri, pemerintah, praktisi human capital, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membahas masa depan tenaga kerja dan produktivitas Indonesia di tengah percepatan AI dan digitalisasi.

Acara ini dihadiri oleh 6.000 peserta yang berasal dari sektor swasta, instansi pemerintahan, akademisi, para praktisi HR, serta menghadirkan lebih dari 70 pembicara nasional dan internasional.

Paul Choo, CHRO Bridgestone Asia Pacific, dalam sesi International Inspire bertajuk “Best Practices of Human Centric Practices: an Asia Pacific Perspective” menegaskan, transformasi digital tidak semata-mata berbicara mengenai adopsi teknologi.

Baca Juga: Jutaan Pelaku Usaha Sudah Pakai AI, Talenta Digital RI Masih Kurang

Menurutnya, transformasi digital juga terkait tetapi bagaimana organisasi membangun lingkungan kerja, kapabilitas, dan praktik kepemimpinan yang memungkinkan manusia berkembang bersama teknologi.

Paul mengatakan, AI merupakan enabler untuk melakukan berbagai hal, mendesain ulang pekerjaan dan organisasi adalah tranformasinya.

Top 5 Imperatives yang dapat dilakukan adalah meningkatkan workforce, mentransformasi HR dalam organisasi, mendesain ulang pekerjaan, mendesain ulang alur pekerjaan, dan mengubah bentuk budaya dan leadership.

“AI tidak sekadar mengubah pekerjaan. AI juga mengubah bagaimana alur kerja berjalan di dalam organisasi. Kita perlu mendesain ulang pekerjaan dengan menggabungkan peran manusia dan AI. Kita perlu menggunakan AI secara bijak. Mari kita melihat AI sebagai bagian dari transformasi,” pungkas Paul.

Banner Loker

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button